THE POWER OF PUTIH ABU

 

Liam menguap lebar. Lembaran soal bahasa Perancis yang sudah selesai ia kerjakan diangkat tinggi-tinggi untuk menutupi muka ngantuknya. Liam melirik jam tangannya. Sepuluh menit lagi ulangan selesai tapi kantuk sudah menyerangnya tanpa ampun. Demi membunuh rasa ngantuknya, Liam memeriksa lagi soal-soal di hadapannya. Bosan memeriksa, Liam mulai mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kelas, rupanya teman-teman sekelasnya masih sibuk mengerjakan. Liam melirik Dika, teman sebangkunya yang  masih mengisi  soal. Mata Liam beralih ke Roman yang duduk didepannya, dia sedang asik melirik kanan-kiri mencari jawaban, Raka teman sebangku Roman, yang satu ini malah ketiduran sejak satu setengah jam ulangan dimulai. Kok bisa-bisanya Raka tidur, padahal sekarang ini mereka seharusnya mengerjakan soal-soal yang susahnya minta ampun dan kalau mengingat kemampuan berpikir Raka, rasanya soal-soal ini membutuhkan berhari-hari untuk mengerjakannya. Tapi, untung saja, pak Ahmad, guru bahasa Perancis mereka sedang sibuk di mejanya, bayangkan saja kalau pak Ahmad memergoki pemandangan mengenaskan seperti ini. Bisa-bisa nama mereka dicoret dari daftar kelas. Tapi keberuntungan tampaknya tak bertahan lama, mendadak pak Ahmad mendekati meja Raka.

“Raka, kumpulkan kertas kamu didepan!” Suara tegas pak Ahmad mau tidak mau membuat Raka terbangun. Raka yang masih kebingungan memberanikan diri mengangkat wajah dan memandang gurunya itu. Dahi pak Ahmad berkerut-kerut saat melihat kertas jawaban Raka yang masih kosong.

“Jadi apa yang kamu kerjakan selama satu setengah jam ini ?  Tidur  ?” Tanya pak Ahmad dengan wajah heran.

Raka tidak berani menjawab. Dia melirik sekilas kertas jawaban Roman yang hampir terisi semua.

“Bapak sangat kecewa dengan kamu, Raka! Kalau kamu punya waktu untuk tidur dan main-main, sebaiknya kamu juga harus punya lebih banyak waktu lagi untuk belajar. Itu jauh lebih membantu, mengatasi nilai-nilai kamu yang menurun. Selesai jam ini, kamu ke kantor. ”Kali ini suara pak Ahmad agak melunak.

Raka benar-benar lemas, minggu lalu dia juga kena marah dan kali ini mungkin habis sudah kesabaran pak Ahmad.

“Oke, anak-anak waktu habis, kumpulkan lembar jawaban kalian dan ketua kelas letakkan di meja kantor bapak.” Perintah pak Ahmad begitu terdengar bel istirahat.

Raka hanya memandang lesu ke arah Roman, sebelum akhirnya mengikuti langkah pak Ahmad keluar kelas.

 

Jam isirahat. Liam serta dua sahabatnya, Dika dan Roman, duduk di bangku panjang kantin sekolah yang sesak dipenuhi para murid yang kelaparan.

“Diapain ya si Raka sama pak Ahmad ?” Tanya Roman penasaran.

“Paling disuruh bikin esai atau kalau nggak malah sekalian nggak boleh ikut kelasnya pak Ahmad.” Jawab Dika cuek.

“Wah, sadis loe sama teman sendiri…”

Belum selesai Roman ngomong, Raka sudah melangkah masuk dan bergabung dengan mereka, wajahnya jauh lebih ceria dari sebelumnya dan yang lebih membuat penasaran adalah seringai penuh kemenangan yang terbentuk di sudut bibir Raka.

“Woi, diapain loe, kok malah cengar-cengir sendiri?” Tanya Dika.

“Untung aja, tadi loe nggak bangunin gue. Ketiban rejeki nih gue. ” Jawab Raka sambil menyeruput teh botol punya Liam. “Gue disuruh belajar bareng Renata, mantap nggak tuh ?.”  Lanjut Raka bangga.

Gimana nggak bangga, udah bikin guru kesal, bukannya dihukum  malah dikasih kesempatan dekat-dekat sama Renata, cewek cantik plus paling pintar dikelas, tipe cewek yang nggak harus berusaha keras untuk terlihat cantik karena apapun yang menempel dibadannya memang  terlihat menarik. Aneh juga nih guru ngasih hukumannya.  Paling juga bukannya  belajar bareng tapi si Raka malah sibuk pendekatan sama Renata.

“Untung di loe, sial di Renata dong ? Hehehe….” Timpal Roman terkekek.

“Sama-sama saling menguntungkan dong, lagian kapan lagi Renata bisa dekat-dekat sama gue ?” Elak Raka membela diri.

“Terserah apa loe bilang ajalah Ka!” Kali ini Roman memilih mengalah, biasanya kalau dua orang ini sudah berdebat, bisa-bisa berujung perang dingin antara mereka. Merasa menang, Raka lagi-lagi memasang ekpresi bangga.

Raka memang bisa dibilang beruntung, terlepas dari cara berpikirnya yang kekanakan dan agak susah nyambung, Raka adalah tipe sahabat yang baik, cuek, nggak peduli pendapat orang lain, dan kalau ditanya soal masa depan, dia pasti jawab belum tahu. Kalau Liam, dia ini pekerja keras, suka politik, termasuk  salah satu murid yang peduli dengan lingkungan dan kegiatan amal. Sahabat mereka yang lain, Roman, si party- boy, lahir dari keluarga kaya yang membuat dia nggak bisa hidup susah, ditambah dengan kebiasaannya yang doyan flirty, membuat Roman cukup populer di kalangan murid-murid cewek. Yang terakhir adalah Dika, paling peka,  tapi paling konyol diantara yang lain, terkenal rame, nggak ada basa-basinya dan nggak tahu malu. Mereka bersahabat dari kecil, jadi bisa dibilang mereka sudah saling mengenal luar dalam dan yang membuat mereka lebih dekat lagi adalah persamaan mereka yang sama-sama lagi nggak punya pacar. Jadi setiap malam minggu, mereka  punya ritual kumpul-kumpul bareng sampai pagi.

“Jadi ntar mau ngapain nih ? ” Suara Liam tiba-tiba terdengar.

“Apa ajalah, yang penting asik, kita ngumpulnya di rumah loe kan Man ? ” Giliran Dika yang ngomong.

“Boleh, boleh. Ntar pulang sekolah kita ke Movie Box dulu, cari film sebanyak-banyaknya terus cari camilan juga. Kita nonton film, main PS, makan, ngobrol sampai pagi. ”

“Sip…” Jawab yang lain kompak.

 

Di perjalanan pulang sekolah mau ke Movie Box, mereka melewati jalan tikus dekat sekolah mereka yang mendadak jadi rame. Penasaran, mereka memutuskan berhenti sebentar. Semakin dekat semakin ketahuan ternyata ada demo menentang pembangunan mall baru di hutan yang nggak jauh dari sekolah mereka. Sebenarnya bukan hutan juga, karena nggak terlalu banyak pohon juga selayaknya hutan biasa, tapi orang-orang terlanjur mengenal tempat itu sebagai hutan meskipun tidak begitu luas.

“Eh, hutan kita tuh.” Celetuk Liam tiba-tiba.

Begitu Liam nyeletuk yang lain spontan melihat ke arah hutan yang semakin rame oleh para pendemo.

“Jadi kalian merasa ini hutan kalian juga ? Kalau gitu jangan cuma bisa merasa memiliki, kalian juga harus bantu kami mempertahankan hutan ini.” Tiba-tiba terdengar suara cewek yang mendekati mereka. Cewek cantik, kira-kira dua puluh tahunan, dia kelihatan  dewasa, mungkin karena pembawaannya yang serius dan cara bicaranya yang tegas.

“Saya Gita, dari Save Our Earth.” Lanjut cewek itu memperkenalkan dirinya.

Pantas dia kelihatannya beda sama Liam dan yang lainnya, ternyata dia dari LSM pencinta lingkungan yang memang aktif menentang pembangunan tanpa memperhatikan lingkungan.

“Gue Liam, yang ini Dika, Raka, dan Roman. ” Sahut Liam sambil mengulurkan tangan,  memperkenalkan diri dan teman-temannya.

Gita menyambut tangan Liam dan bergantian menjabat tangan yang lainnya. “Jadi kalian mau bergabung dengan kami ? ”

“Tunggu, tunggu, ” Tiba-tiba Roman menyela. “ Kita akan ngobrolin  masalah ini dulu, sebelum memutuskan mau ikut atau nggak, gue harap loe nggak keberatan.”

Tampaknya Gita mulai ragu, apa mereka mau ikut atau tidak tapi akhirnya dia mengangguk tanda setuju. “ Kalau kalian mau gabung, tiga hari lagi, kita kumpul disini untuk memulai aksi protes tapi damai. ” Kata Gita sambil memberikan selebaran pada Liam sebelum akhirnya dia melangkah pergi menyusul teman-temannya yang lain

“Kenapa harus pakai mikir Man, ini kan hutan kita, tempat main waktu kita masih kecil, loe rela kehilangan hutan ini ? ” Suara Liam mulai terdengar emosi.

“Nggak Am, tapi kita nggak bisa langsung main gabung aja. Sekarang kita pulang aja dulu, ntar kita bahas lagi di rumah gue, setuju ? ”

“Oke, tapi gue akan tetap gabung, dengan atau tanpa kalian.” Jawab Liam tegas.

 

Sorenya di rumah Roman. Liam sekali lagi membaca selebaran ditangannya seperti nggak pernah bosan mengulang tulisan-tulisan di selebaran itu.
“Nggak bosen apa diulang-ulang terus bacanya ? Gantian gitu bacanya.” Sahut Dika.

“Loe mau baca juga ? Kirain mau cuek-cuek aja kalian.”

“Gue kan nggak bilang nggak mau gabung, gue bilang pikir-pikir dulu. Lagian kita harus tahu dulu, pembangunannya udah dapat ijin apa belum.  Kalau udah, iya berarti kita buang-buang waktu dan tenaga dong ? Gimanapun ngototnya kita, toh mereka tetap akan bangun juga itu mall. ” Sahut Roman membela diri.

“Minimal kita pernah nyoba Man.” Sahut Dika mencoba menengahi.

“Lha terus, apa kabar sama pohon cinta gue ?” Raka yang dari tadi diam saja mulai membuka suara.

“Hah ?” Tanya Dika heran. “ Pohon cinta apaan ?” Lanjut Dika menyambung rasa penasarannya.

“Pohon cinta gue sama Layla. Inget nggak, cewek gue waktu kelas dua SMP, yang cantiknya minta ampun, yang pindah ke Surabaya.” Jawab Raka mencoba mengingatkan yang lain.

“Oh, yang itu. Kasian gue sama dia, pacaran kok, sama loe, sial di dia, untung di loe dong, hehehe…” Roman menimpali dengan terkekeh.

“Sial loe man, tega banget loe sama teman. Eh, kita ke hutan aja kali ya ? Daripada ngobrol-ngobrol kayak gini, ntar juga ujung-ujungnya loe berantem  sama Liam. Gimana ? ” Usul Raka cerdas.

“Iya nih, daripada bengong  disini, Film juga kita nggak punya, camilan apalagi. Sekalian mengenang masa kecil kita, gitu.” Sahut Dika.

“Nangis nggak ya, gue ngelihat pohon cinta gue lagi ?” Tanya Raka dengan tampang konyol diikuti pandangan aneh ketiga temannya yang lain.

“Berlebihan loe…” Timpal  Liam.

Tidak lama kemudian mereka berempat sampai juga di depan hutan, awalnya mereka hanya berdiri saja tapi akhirnya masuk juga ke hutan itu. Begitu mereka masuk, hawa sejuk langsung terasa, rasa sejuk yang benar-benar nyaman.

“Gue hampir lupa rasanya, kalau masuk hutan ini bisa jadi nyaman banget gini.” Guman Liam.

“Lha, bukannya loe ikut klub pencinta alam di sekolah ? Jadi harusnya loe udah biasa masuk keluar hutankan ? ” Sahut Dika.

“Tapi hutan yang ini beda Dik. Gue heran, kemarin-kemarin ngapain juga, gue jauh-jauh keluar kota, demi menyelamatkan hutan yang lain, sementara hutan kota kita sendiri terancam gini.”

“Mungkin karena, loe punya ikatan emosional sama hutan ini kali Am ?”Tanya Raka lagi-lagi dengan tampang konyolnya.

“Mungkin…” Jawab Liam lirih.

Mereka semakin masuk kedalam hutan. Mendadak terdengar suara Roman yang teriak-teriak memanggil teman-temannya yang lain. Roman memang berjalan lebih dulu di depan.

“Kenapa Man ? Kenapa ? ”  Jawab Liam panik.

“Ada ular ya ? ” Sahut Dika yang menyusul di belakang Liam.

“Pohon cinta loe tuh Ka..” Jawab Roman terengah-engah.

“Ehm, kirain apaan…”  Sahut Liam dan Dika hampir bersamaan.

Raka dengan emosional langsung mendekati pohon yang dimaksud Roman, lalu tiba-tiba merentangkan tangan selebar-lebarnya ingin memeluk pohon cintanya.

“Pohon cinta gue…” Guman Raka pelan.

“Ternyata ukiran Raka cinta Layla di pohon ini lebih lama daripada hubungan loe berdua ya Ka ?” Tanya Dika polos.

“Sial loe, ngerusak  suasana aja, nggak lihat gue lagi nostalgia sama pohon cinta gue ?” Jawab Raka marah.

“Hehehe…sorry Ka, nggak ada maksud gue. ” Sesal Dika.

“Lebih sialnya lagi, ntar pohon ini juga bakal hilang, nggak ada sisa lagi deh, kenangan cinta gue sama Layla…”

“Beneran nggak boleh hilang nih hutan, lagian ngapain juga orang-orang itu bikin mall lagi cuman buat jual barang-barang yang nggak jauh beda sama mall-mall yang lain ? ”Tiba-tiba Liam bersuara dengan sedikit emosional.

“Tapi kalian bisa bayangin nggak, bakal ada mall yang menjual barang-barang bermerk kelas dunia nggak jauh dari sekolah kita? Tiap pulang sekolah kita bisa langsung nongkrong, mantap banget tuh ! gimana ? Asik nggak ? ” Sahut Roman antusias.

“Man, loe ngggak sadar ? Udah banyak mall di kota kita,  nggak perlu ditambah lagi lah.” Jawab Liam nggak kalah antusias.

“Gue cuma mencoba melihat masalah ini dengan positif aja. Kalau nggak jadi dibangun, iya berarti kita masih punya hutan ini tapi kalau mau tetap dibangun, iya gue bayangin aja bakal asik banget ada mall kelas dunia di belakang sekolah kita.”

“Konyol loe Man, nggak ada asik-asiknya sama sekali kalau kita harus kehilangan hutan ini cuman gara-gara pengen nongkrong di mall kelas dunia..Loe mau adegan-adegan di The Day After Tomorrow, kejadian di dunia nyata ?” Liam coba menjelaskan.

“Satu hutan aja nggak bakal bikin kerusakan parah lah Am.” Jawab Roman nyolot.

“Satu hal akan menyebabkan hal yang lain ! Gue cuma nggak mau memperparah aja Man, asal loe tahu ya, satu kerusakan akan berdampak pada kerusakan yang lain.”

“Ho-oh, lagian, hutan kota kita kan tinggal satu ini.” Timpal Raka nggak mau kalah.

“Jadi kita gabung nih, sama mereka ? ” Tanya Dika.

“Kalau gue jelas iya.” Jawab Liam mantap.

“Tunggu,tunggu, bisa apa sih kita ? Paling juga cuman dicuekin aja. Kita bakal cuma dianggap anak ingusan yang masih pakai seragam putih abu-abu doang.”

“Nggak harus jadi Spiderman buat menyelamatkan bumi Man. Kita gabung sama mereka dan kita buktiin, anak-anak yang masih pakai putih abu-abu kayak kitapun bisa berbuat lebih untuk kepentingan bersama. ” Liam lagi-lagi coba meyakinkan.

“Gue setuju ! Kita buat, orang-orang rela antri beli tiket buat ngelihat kehebatan kita menyelamatkan hutan. ” Tiba-tiba Raka nyeletuk dengan kekonyolannya yang membuat ketiga sahabatnya melihat dengan tatapan kasian, seolah-olah  berkata “ Ini orang kok lemotnya, kebangetan banget”.

“Gimana Man, loe ikut kan ? ” Tanya Liam.

Whatever it takes lah Am.” Jawab Roman akhirnya.

“Tapi gue benar-benar nggak mau maksa, kalian mau ikut ayo, nggak ikut berarti kalian, nggak setia kawan.” Canda Liam diikuti tawa yang lain.

“Oke, tiga hari lagi kita mulai aksi menyelamatkan bumi ! ” Teriak Dika semangat.

“Eh, balik yuk, seram juga nih , lama-lama disini.” Ajak Roman diikuti anggukan ketiga sahabatnya.

Sore makin gelap. Liam dan yang lain mulai meninggalkan hutan.

“Eh, loe ngapain tiba-tiba ngomongin soal tiket sih Ka ? Ketahuan lemot aja loe .” Bisik  Dika tiba-tiba begitu mereka keluar dari hutan.

“Lha bukannya tadi Liam ngomongin soal The Day After Tomorrow sama Spiderman ? ” Jawab Raka dengan nada polos.

“Yee…bukan gitu juga maksudnya, lemot…!”

“Lha elo juga, ngapain tiba-tiba mau ikut gabung ? Kalau gue jelas, demi pohon cinta gue dong. ”

“Demi menyelamatkan bumi lah, apalagi coba, kalau bukan itu.”

“Halah…bilang aja loe takut sama yang diomongin Liam tadi, yang soal The Day After Tomorrow, gue kan tahu, loe nggak bisa berenang.” Cibir Raka.

“Sialan loe, tahu aja, gue nggak bisa berenang. ”

 

Senin pagi di sekolah. Murid-murid kelihatan panik, karena ternyata berita tentang hutan sudah menyebar ke sekolah, kebanyakan dari mereka nggak setuju, jadi mereka mulai mengumpulkan orang-orang untuk ikut menentang pembangunan mall. Beruntung sekali ternyata, banyak orang yang peduli dengan masalah ini.

“Lega gue, ternyata kita nggak sendirian.” Liam tiba-tiba ngomong.

“Yoi, makin semangat nih gue.” Timpal Dika

 

Semakin hari, semakin banyak yang peduli dan ini menjadi langkah yang hebat untuk memulai aksi penyelamatan lingkungan. Memang bukan pekerjaan mudah, membuat orang-orang peduli dengan lingkungan tapi akan selalu ada orang-orang seperti Liam dan sahabat-sahabatnya untuk menjaga bumi ini. Masih maukan, bumi menjadi tempat yang nyaman untuk tempat kita tinggal ? Masih maukan, melihat sinar matahari yang melubangi awan-awan  mendung di langit ? Masih bangetlah…
cerpen by :
Agung Kurniawan, Ilmu Administrasi Negara 2011, Universitas Sebelas Maret